Home Sambang Desa Petani Bojonegoro, Dihimbau Agar Tak Tanam Padi

Petani Bojonegoro, Dihimbau Agar Tak Tanam Padi

163
SHARE
Wabup Bojonegoro Setyo Hartono saat acara pembinaan dan pembentukan Gabungan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) di Pacal Sekunder Pohbogo, di Desa Bulaklo, Kecamatan Balen, Bojonegoro, Rabu (4/10/2017).
Loading...

BOJONEGORO (Rakyat Independen)- Ketersediaan air di Waduk Pacal yang turut Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa timur untuk pengairan pada musim tanam (MT) tahun ini, menipis. Bahkan, air tersebut tak mencukupi untuk mengairi sawah petani. Sehingga dihimbau agar petani yang memanfaatkan air Waduk Pacal agar tak tanam padi di MT Ke-3 ini.

Kondisi itu, membuat Sehingga Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Pemkab Bojonegoro, Edi Susanto, angkat bicara pada acara pembinaan dan pembentukan Gabungan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) DI Pacal Sekunder Pohbogo, di Desa Bulaklo, Kecamatan Balen, Bojonegoro, Rabu (4/10/2017).

“Saat ini, ketersediaan air di Wadul Pacal sudah sangat minim. Jika dibuka secara normal air di waduk tersebut hanya akan mampu untuk waktu 4 (empat) hari saj. Itupun hanya diperuntukkan untuk mengairi tanaman palawija dan bukan padi,” tegas Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Pemkab Bojonegoro, Edi Susanto.

Ditambahkan, aliran sungai pacal itu, nyaris habis sehingga bisa mengancam petani palawija gagal panen. Untungnya, hal itu tertolong dengan adanya turun hujan beberapa hari lalu, yang mengguyur wilayah Kabupaten Bojonegoro itu. Karenanya dia harus bisa mengatur secara tepat bagaimana air yang tersedia ini dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk mengairi tanaman palawija yang terancam gagal panen tersebut.

Tampak, para petani saat acara pembinaan dan pembentukan Gabungan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) di Pacal Sekunder Pohbogo, di Desa Bulaklo, Kecamatan Balen, Bojonegoro, Rabu (4/10/2017).

Masih menurut Pak Edi, – demikian Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Pemkab Bojonegoro, Edy Susanto, akrab disapa, jika secara normal air Waduk Pacal mampu mengairi 16 ribu hektar areal persawahan di wilayah Bojonegoro. Oleh karenanya dirinya menghimbau agar petani memperhatikan betul ketersedian air dan kebutuhan air saat melakukan tanam.

“Jumlah HIPPA yang sudah terbentuk di Kabupaten Bojonegoro ada sekitar 30 HIPPA, ke depan dirinya akan membentuk gabungan HIPPA persekunder di DI Pacal. Aliran irigasi mulai Waduk Pacal lebih dari 90 kilometer,” ungkap Pak Edi.

Hal senada disampaikan Wakil Bupati Bojonegoro, Drs.H.Setyo Hartono,M.Si, bahwa informasi yang diterima dari Dinas Pengairan Sumber Daya Air Kabupaten Bojonegoro, bahwa air yang tersedia di Waduk Pacal hanya cukup untuk 4 (empat) hari saja. Walaupun kondisi sudah mulai huna, karena tipikal tanah di Kabupaten Bojonegoro di saat musim hujan airnya lansung mengalir dan tak terserap tanah. Sehingga, belum ada tambahan untuk stock air di Waduk Pacal tersebut.

“Musim kemarau yang sebentar saja, sudah membuat Kabupaten Bojonegoro terjadi kekeringan. Hal ini dipengaruhi oleh dua hal yakni cuaca dan ketersedian pohon atau penghijauan. Pohon-pohon banyak ditebang sehingga fungsi menyerap dan mampu menanmpung air dalam tanah sudah berkurang. Sehingga, air dalam tanah juga berkurang hingga akhirnya terjadilah kekeringan,” tegas Wakil Bupati Bojonegoro, Drs.H.Setyo Hartono,M.Si, Rabu (4/10/2017).

Wabup Bojonegoro Setyo Hartono berpesan agar petani kita lebih cerdas, karena petani kebanyakan berada diposisi tidak menguntungkan atau selalu merugi. Dicontohkan saat musim panen harga gabah cenderung turun, namun di saat musim seperti ini harga gabah melambung tinggi. Akan tetapi, di saat harga mahal petani sudah tidak ada barang soalnya sudah kadung dijual ke tengkulak dengan harga yang rendah bahkan merugi .

“Inilah pentingnya sinergi semua komponen, mulai petani, aparat dan pemerintah untuk membantu petani kita agar tidak dipermainkan oleh orang-orang yang hanya mengambil keuntungan,” ungkap pria yang akrab disapa Kang Harto itu.

Semua pihak harus bekerjasama aparat harus menindak tegas jika ada oknum yang merugikan petani dan pemerintah melakukan fungsi pengawasan sehingga nasib petani terperhatikan.

Dalam tatap muka tersebut, Wabup Bojonegoro dengan petani Drda Bulaklo dan sekitarnya itu, tampil seorang petani yang menyampaikan permasalahan petani seperti, adanya serangan hama tikus yang merusak tanaman kedelai dan jagung. Juga wadul tentang harga kedelai yang sangat murah. Bahkan, mereka menyebut jika harga kedelai lebih mahal dibandingkan dengan dedak atau bekatul.

Menanggapi keluhan petani ini, Kang Harto langsung memerintahkan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro untuk mencari solusi pemberantasan hama tikus seperti yang dikeluhkan petani tersebut. **(Kis/Red).

 

Loading...
SHARE