Home Opini Tentang Rencana Pengembangan Lokasi Wisata Negeri Atas Angin, Oleh: Sukisno

Tentang Rencana Pengembangan Lokasi Wisata Negeri Atas Angin, Oleh: Sukisno

1128
SHARE
Loading...

Pengembangan Kawasan Wisata Negeri Atas Angin yang berada Desa Deling, Kecamatan Sekar, Bojonegoro, masih memerlukan banyak fasilitas penunjang. Faktor utama yang harus diperhatikan adalah akses jalan menuju ke lokasi wisata tersebut.

Patut disyukuri, dalam promosi perdana Kawasan Wisata Negeri Atas Angin, Bupati Bojonegoro H. Suyoto telah menjanjikan akan membangun jalan menuju ke lokasi wisata tersebut. Menurut Kang Yoto (demikian panggilan akrab Bupati Bojonegoro Suyoto) itu, jika ada manfaat yang lebih, maka pembangunan jalan akan diprioritaskan. Ketika, ada kawasan wisata, maka fasilitas penunjang akan segera dibangun, termasuk pembangunan akses jalan menuju lokasi wisata itu.

Ada catatan dari penulis ketika menyaksikan Promosi perdana dengan membuat gebrakan adventur sepeda zengoh itu. Diantaranya, saat kita hendak masuk Lokasi wisata, masyarakat yang sedang lewat harus sudah tahu jika lokasi tersebut sekarang sudah diubah menjadi tempat wisata. Caranya, dengan membangun gapura masuk lokasi, membuat benner selamat datang dan benner dengan ukuran besar tentang tempat wisata itu dengan tujuan untuk promosi.

Sarana penunjang seperti toilet harus menjadi perhatian khusus sebab pengunjung akan betah berada di lokasi wisata itu, jika ada sarana penunjangnya seperti toilet itu. Tempat-tempat peristirahatan atau untuk duduk-duduk para pengunjung agar bisa dipakai untuk melihat dan menikmati pemandangan indahnya gunung, bukit, persawahan dan perkampungan jika dilihat dari Lokasi Wisata Negeri Atas Angin itu.

Perlu memperindah lokasi dengan bunga-bunga dan menambah penanaman pohon-pohon disekitar lokasi wisata itu, agar terlihat asri dan tidak terlihat gersang. Lokasi wisata haruslah nampak asri, penuh dengan pepohonan dan bunga-bunga yang bisa membuat mata para pengunjung terasa sejuk dan asri pemandangan sehingga pengunjung betah berlama-lama di situ dan pengen balik berwisata di Negeri Atas Angin tersebut.

Pembuatan warung-warung penunjang di sekitar lokasi, walaupun hanya sederhana, akan tetapi harus tetap diperhatikan kerapiannya. Jangan sampai, bangunan itu terlihat kumuh dan mengganggu pemandangan di situ. Pelayanan warung harus ramah dan harga makanan dan minuman yang disajikan jangan sampai mahal, minimal harganya merupakan harga umum.

Jika menjual dengan harga mahal itu artinya mereka menggunakan aji-aji mumpung, artinya mumpung ada lokasi wisata atau mumpung yang beli tidak mereka kenal sehingga harganya dibuat semahal mungkin. Bahkan, saat penulis minum secangkir kopi hitam harganya mencapai Rp 4 ribu. Padahal di warung-warung yang ada di wilayah Deling, Sekar dan sekitarnya harga kopi hitam secangkir masih seribu, atau yang paling mahal itu satu cangkir harganya Rp 2 ribu. Bahkan, harga kopi hitam secangkir di warung-warung Bojonegoro kota saja, harganya rata-rata cuma Rp 2 ribu.

Berarti para penjual di warung lokasi wisata itu hanya menghitung keuntungan dan bukan menghitung dari segi kelestarian lokasi Wisata Negeri Atas Angin itu. Jika jualan harganya mahal, pengunjung akan kapok, jika makan dan minum di warung-warung sekitar lokasi wisata Negeri Atas Angin situ. Sebaiknya, menjual dengan harga umum, agar para pengunjung semakin nyaman dan mereka memiliki keinginan untuk kembali berekreasi lagi, menikmati indahnya pemandangan alam di Kawasan wisata Negeri Atas Angin situ.

Saat acara promosi perdana Lokasi Wisata Negeri Atas Angin, Kamis 31 Desember 2015, penulis bertemu dengan Hari (40) seorang Ketua LMDH Warna Hijau Desa Deling, Kecamatan Sekar, Bojonegoro. Menurutnya, lokasi Wisata Negeri Atas Angin itu berada di Hutan Lindung yang masuk wilayah LMDH Warna Hijau yang dikelolanya. Dia berharap kepada pengelola Lokasi wisata tersebut, agar bisa berkomunikasi dan bekerjasama dengan LMDH dalam setiap kegiatan yang dilakukan itu.

Kepada penulis, dia bilang sangat bersyukur dengan adanya inisiatif untuk mengembangkan lokasi wisata di wilayah LMDHnya, hanya saja, pihak LMDH Warna Hijau harus lebih diperhatikan, termasuk dengan memberikan pekerjaan kepada pengurus dan anggota LMDH dalam pengelolaan Kawasan Wisata Negeri Atas Angin itu.

Kabarnya, kegiatan pengelolaan lokasi wisata menggunakan sistem Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang ditangani oleh 6 (enam) kepala desa Se-Kecamatan Sekar, yakni Kades Deling Didik Prioman, Kades bareng Suprapto, Kades Klino Maryono, Kades Bobol Harinto, Kades Sekar Suyono dan Kades Miyono Farit. Dengan dukungan, dr Andik Kepala UPT Puskesmas Sekar dan Andik Sudjarwo Kepala BPBD Bojonegoro yang juga putra desa Asli Desa Sekar, Kecamatan Sekar, Bojonegoro.

Dalam kegiatan dengan bentuk kerjasama itu, yang harus diperhatikan adalah kerukunan dan saling menghargai diantara mereka. Sehingga, kerjasama itu akan berlangsung langgeng. Jika dilihat, dari tidak hadirnya Kades Miyono dan terlambatnya kehadiran Kades Sekar, sudah terlihat tidak kompak diantara mereka. Ini perlu segera dibicarakan dengan duduk bersama, demi kelangsungan niat baik untuk membuat Kecamatan Sekar memiliki tempat wisata yang diminati dan dikenal warga Bojonegoro sekitarnya, atau bahkan dikenal dan dikunjungi turis domestic dan asing.

Kerjasama sebagai pondasi kokoh berdirinya sebuah lembaga harus ditata dulu dengan baik, untuk menuju pengembangan lokasi wisata Negeri Atas Angin itu. Karena pengembangan lokasi itu butuh kerjasama yang baik, seperti rencana pembangunan Kolam renang Jonopuro dan Fliying foox.
Apalagi, ada rencana besar untuk pengembangan lokasi wisata wilayah kecamatan Sekar yakni, Pesanggrahan Klino, Air Terjun Sujono Puro, Puncak Gunung Pandan, Situs Sendang sumur Bandung, Situs Gunung Kendil, Lintasan kali gandong, situs Telaga kalmias dan off road Puncak atas Angin dan beberapa lokasi lainnya.

Begitu banyak, lokasi wisata di wilayah Sekar. Itu menunjukkan bahwa Kecamatan Sekar memang sangat indah seindah namanya sekar yang artinya bunga. Jika mau mengelola dengan baik maka Kecamatan Sekar akan memiliki pesona wisata yang bisa menjadi asset yang bisa menunjang PAD (Pendapatan asli Daerah) Bojonegoro. Pemandangan yang indah Gunung pandan, lingkungan hutan yang masih alami dan masyarakatnya yang santun akan memudahkan pengembangan lokasi wisata di wilayah Kecamatan Sekar itu.

Banyaknya, kawasan lokasi yang digarap, KUB yang merupakan gabungan 6 (enam) kades yang ada di wilayah Sekar, tak akan mampu menyiapkan anggarannya. Untuk itu, mereka butuh sentuhan dan perhatian Pemkab Bojonegoro melalui Bupati Bojonegoro Suyoto dan dinas terkait. Tidak hanya itu, mereka juga membutuhkan adanya pihak ketiga yang mau bekerjasama untuk pengembangan Kawasan wisata di wilayah Kecamatan Sekar itu.

Mudah-mudahan, niat baik yang dilaksanakan itu akan berjalan dengan baik pula. genderang perang sudah ditabuh, keinginan untuk memajukan Kecamatan Sekar sudah mulai dilaksanakan dan sudah nampak actionnya. Semoga niat tulus dan mulia itu, akan menjadi kenyataan dengan ridho Allah SWT, Kawasan Wisata Negeri Atas Angin dan pengembangan wilayah tempat wisata di Kecamatan Sekar lainnya akan menuai keberhasilannya, semoga dan semoga…

Penulis adalah, Pemimpin Redakasi
Media Onlline: rakyatindependen.com

Loading...
SHARE