Home Catatan Tepi Behavioral Politik: Soehadi Moeljono Menyerimpung? Oleh: Agung DePe

Behavioral Politik: Soehadi Moeljono Menyerimpung? Oleh: Agung DePe

1064
SHARE
Baliho Bacabup Bojonegoro Soehadi Moeljono yang dipasang di paku pada pohon mahoni yang ada di pinggir Jalan poros kecamatan Bubulan - Temayang, tepatnya turut Desa Clebung, Kecamatan Bubulan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa timur.
Loading...

Proses politik pilbup 2018 di Bojonegoro mulai menggejala menabrak konsensus dan pranata?

Realitas ini tentu sulit dibantah, sebab pilbup sudah menjadi ekspektasi dan perebutan kekuasaan semata. Seharusnya proses politik tidak cukup dengan hasil siapa paling berkesempatan menjadi pemenang? Sekaligus, yang lebih substansif adalah bagaimana memproduksi pemimpin tidak berperilaku asal lihai menyingkirkan pesaing?

Mundurnya sejumlah bakal calon bupati dari penjaringan Partai Demokrat Bojonegoro(3/10), bisa dijadikan ukuran, bahwa jegal-menjegal antarcalon dan didukung oleh partai telah berlangsung.

Protes keras ditunjukkan oleh Setyo Hartono. Pria yang masih menjabat Wakil Bupati Bojonegoro itu menilai, diterimanya Soehadi Moeljono (Sekretaris Daerah Bojonegoro) sebagai bakal calon bupati setelah pendaftaran ditutup merupakan bentuk sikap cidra pengurus partai. Berbarengan dengan itu, sejumlah calon lain juga sudah tidak ikut melanjutkan tahapan penjaringan. Dari jumlah 17 calon tinggal 10 calon.

Keluhan jadi tuduhan: begitulah rumus politik. Partai Demokrat inkonsistensi? Partai Demokrat mencurangi sejumlah bakal calon bupati, lantaran mendesakkan munculnya Putra Mahkota?
Bantahan terjadi permainan kotor disampaikan oleh Ketua Desk Penjaringan Bakal Calon Bupati DPC Partai Demokrat Bojonegoro, Surawi.

“Itu keliru besar. Demokrat sudah membuka ruang setransparan mungkin,” tandas Surawi kepada pers, di kantor DPC Demokrat Bojonegoro (3/10).

Terpisah, berisiknya ‘sempalan kisah’ mematok Putra Mahkota juga ditolak oleh Ketua DPC Partai Demokrat Bojonegoro, Sukur Prianto.

“Tidak ada itu,” tegas Sukur melalui telepon.

Tidak kurang, kejutan urungnya Setyo Hartono dari penjaringan bacabup, ditanggapi politisi Partai Amanat Nasional (PAN), Kuswiyanto. Dirinya yang juga mendaftar sebagai bakal calon bupati itu mengatakan,” Saya juga mendengar, setelah dibukanya kembali pendaftaran bakal calon bupati, Demokrat sudah matang mengusung Soehadi Moeljono”.

Physically Soehadi Moeljono yang berangkat masih sebagai pejabat aktif Aparatur Sipil Negara (ASN) mendorong kegegabahan berbagai sinisme? Terutama, ia disebut sebagai salahsatu rel keberlanjutan kekuasaan bupati Suyoto?

Jika saja itu benar, maka permainan dua bidak calon bupati baru oleh Bupati Suyoto, untuk menjadi invisible hand kelanjutan kekuasaannya kentara tidak cerdik. Apakah Bupati Bojonegoro sepuluh tahun itu lengah menyiapkan Kuda Hitam Alekhine lain? Meskipun dalam berbagai kesempatan, bupati berasal dari Partai PAN itu mengaku hanya mendukung satu calon, yakni Kuswiyanto, ditambah belakangan diotak-atik akan berpasangan dengan Basuki, Kepala Dinas Perdagangan Bojonegoro.

Dalam permainan catur dikenal istilah pertahanan Alekhine. Gerakannya berupaya agar Putih memajukan bidak-bidak tengahnya jauh ke depan, lalu membendungnya, kemudian memusnahkannya. Basic Chess Ending? Bisa mungkin, Bupati Suyoto sedang memainkan dasar-dasar permainan terakhir tentang langkah penutup dalam permainan caturnya?

Kekalahan Suyoto dalam pertikaian politik dimulai sejak Muswil DPW PAN Jatim, di Kediri. Konflik berketerusan dalam tubuh partai dengan tagline “Politik Tanpa Gaduh” itu mencerca ketahanan Suyoto, berikut Kuswiyanto.

Kondisi deadlock bermusyawarah itu membalik peluang Kuswiyanto menjadi Ketua DPW PAN. Giliran Masfuk, mantan Bupati Lamongan dikukuhkan sebagai pengganti Suyoto selaku Ketua DPW PAN Jatim, sebelumnya.

Kuswiyanto adalah jagonya Suyoto. Terjadi kompromi besar, bagi-bagi kursinya, Kuswiyanto diposisikan sebagai sekretarisnya Masfuk. Tidak lama kemudian, Kuswiyanto dicopot dari jabatan Sekretaris DPW PAN Jatim. Tamparan ambruknya kekuatan politik Suyoto itu diiramai dengan tidak lakunya dirinya adu nasib di bursa pilgub Jakarta.

Saat ini, Suyoto tengah menjajal lagi keberuntungan dalam proses penjaringan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur. Ia kembali ketemu musuh lama, karena Masfuk juga sedang bergerak menuju pencapaian kekuasaan itu.

Inilah bidak pertama yang dimainkan Suyoto. Targetnya dagang sapi. Kalau Masfuk yang maju ke pilkada Jatim, ia mundur, dengan catatan rekomendasi sebagai calon bupati dari DPP PAN kepada Kuswiyanto segera bisa diturunkan. Karena sampai saat ini mekanisme Partai Amanat Nasional mengusung bakal calon bupati tahapannya belum dijalani Kuswiyanto. Kalaupun itu dilakukan dapat ditebak, usulan nama Kuswiyanto dari pengurus PAN Bojonegoro bakal diganjal DPW PAN Jatim?

Suyoto pasang badan? Tentu saja tidak. Bidak kedua diperankan. Suyoto mengatur ulang permainan catur: membangun pertahanan, melindungi teman, mengamankan raja (dirinya), intimidasi, berperang, tarik mundur-maju perwira, mencari daerah lemah, serangan sistematis, melumpuhkan raja lawan.

Soehadi Moeljono didorong Suyoto mengikuti kontestan bakal calon bupati Partai Demokrat. Kepanikan tidak bisa ditutup-tutupi. Soehadi Moeljono pun nekat menabrak kelaziman. Apakah itu akan berarti serangan bidak en passant? Tapi buat siapa?

Don’t too much sure with everything that’ll going well.

(bersambung): Penulis adalah wartawan dan aktivis kebudayaan.

 

Loading...
SHARE